"Lho salah itu! Matahari gak ada yang warnanya hijau! Ayam juga gak ada yang warnanya pink! Ayo ganti ya warnanya!"
Katanya sih, ucapan seperti itu mengunderestimate-kan daya imajinasi anak. Ya kan siapa tau dalam benak si anak TK ini, dia menggambarkan sang matahari barusan makan sayur bayam makanya warnanya ijo (karena si anak kemaren malem abis makan sayur bayam). Dan si ayam berwarna pink? Ya emang si anak TK ini demen ama warna pink, emang napa?
Lagipula lho ya...... Seiring dengan berjalannya waktu, PASTI semua anak kecil (kecuali yang tinggal di gua) akan bisa melihat kenyataan bahwa matahari tidak berwarna hijau dan tidak ada wajah bayi nampang di matahari tsb (dapet salam dari Teletubbies). Dan anak ayam berwarna pink memang ada, tapi itu hasil di-cat sama penjualnya. Bukan alami.
Sama seperti nose & boobs. Some are real, some are plastic. But that needs another discussion..... *lost focus*
IYA KAN?? Sooner or later they'll find out that there's no such thing as the tooth-fairy, and no honey........... we don't have snow in Indonesia. It's styrofoam. And no you can't eat styrofoam either. *peh....peh...pait*
INTI-NYA: ada banyak hal yang bisa dipelajari sendiri oleh anak kecil, seiring dengan bertambahnya usia & ilmu yang mereka dapatkan.
TAPIIII...... Ada banyak hal juga yang sedari dini mestinya kita sebagai orang tua/ orang yang lebih tua (as a teacher, sister, aunt) harus mendidik anak-anak kecil untuk KNOW what to do & what not to-do. Yesss.... Sadar deh! I'm not a parent yet. Tapi saya dulu pernah kecil & masih ingat ajaran-ajaran sang Mamah disela pelototan ala Mertua di sinetron Tersanjung maupun cubitan-cubitan yang mendarat di tubuh ini setiap I was about or 've done something wrong.
MISALNYA GINI : you're in a restaurant with your baby sister or with your niece or with your children. Then your 3-y'ol son mulai memukul-mukulkan sendok ke piring beling sehingga mulai menimbulkan, well, suara-suara bising yang mengurangi kenyamanan pengunjung lain. What will you do?
Ok, skip that question & langsung aja menuju ke bagian : WHAT I WILL DO. Ntah bagaimana caranya, dengan cara sehalus mungkin (trust me, I've done this even with a stranger's child, before, in a restaurant) mengalihkan perhatian si anak, dan membuat dia menurunkan sendok & berhenti membuat keributan.
Gak peduli kalopun orang lain punya tenggang rasa yang cukup untuk menghadapi keributan seperti itu, yang jelas: loyal readers of this blog tau kan kalo saya sumbu pendek? Disaat kenyamanan saya berada di tempat umum (restoran, bank) terganggu oleh keributan seperti ini, ya I feel annoyed and tested.
Kalo anak kecil itu saya kenal, of course I will say to him/her (dengan pasang senyum & nada suara semanis seisi toko permen) : "Jangan gitu, Sayang....... Nanti mengganggu orang lain......"
That's the point, pemirsa. Hal-hal seperti ini kalo gak kita sebagai yang lebih tua yang memberi tahu, mungkin sampe dia lulus SMP dia juga gak akan tahu tentang betapa pentingnya behave di muka umum & bahwa annoying things we do bisa mengganggu kenyamanan orang lain.
Iya iya I know.... no one can men-somasi you or send you to jail karena memukul-mukul piring atau KETAWA NGAKAK-KAK-KAK bersama ke-10 temanmu di sebuah cafe @ mall, tapi hal-hal seperti itu kan........ GANGGUK KAN YA?
Kalo dari kecil, kita gak diajarin tentang hal-hal kayak begini, susah lho mau sadar sendiri. Gak semua hal bisa kita biarkan: "Ya udahlah, namanya juga anak kecil. Ntar kan tau-tau sendiri....."
Eh nggak bisa gitu! Ada hal-hal yang bisa kita biarkan mereka belajar sendiri (dari buku/hasil observasi bahwa matahari tidak berwarna hijau bayam) tapi ada hal yang harus KITA yang memberi tahu kepada mereka. Dikandhani ngene-ngene-ngono. Ojok dijar-jarno ae, diumbyaaaaar karepe dewe sapenak udel'e bodhong! :lol:


































